MEMAHAMI SURAT TUMABAGA HOLING

Memahami Surat Tumbaga HolingSurat 

Tumbaga Holing adalah poda atau ajaran yang tidak tertulis pada masa lalu akan tetapi sudah dijadikan way of life dalam tata krama kehidupan masyarakat Batak Angkola, itulah yang disebut nada tartulis tai tarbaca.

Tumbaga adalah tembaga yang melambangkan kekokohan, kekuatan, laksana besi dan baja tetap dianut sampai sekarang. Holing artinya keling, yang menunjukkan bahwa Adat Batak ini sangat dipengaruhi oleh adat dan ajaran India keling, yang berkulit hitam.

Jadi, Surat Tumbaga Holing, artinya ajaran yang telah dijadikan way of lîfe dalam kehidupan bermasyarakat yang digali dari kearifan lokal, alam terhampar luas dijadikan sebagai landasan tata krama kehidupan umat manusia.

Salah satu Surat Tumbaga Holing itu adalah Dalihan Natolu. Dalihan Natolu atau secara harfiah ‘tungku yang tiga’. Tungku yang berkaki tiga sangat membutuhkan keseimbangan yang mutlak.

Jika satu dari ketiga kaki tersebut rusak, maka tungku tidak dapat digunakan, inilah yang dipilih leluhur suku Batak sebagai falsafah hidup dalam tatanan kekerabatan.

Kadang-kadang satu dari ketiga buah batu tersebut bisa saja miring sehingga periuk yang diletakkan di atasnya ikut miring dan tidak stabil.Untuk memperkuat dan menstabilkan posisinya dipergunakanlah suatu bahan pengganjal yang diselipkan di bawah batu yang miring itu, bahan pengganjal inilah disebut sebagai Sihal-Sihal.

Falsafah Dalihan Natolu dimaknakan sebagai kebersamaan yang cukup adil dalaın kehidupan masyarakat Batak. Tungku menıpakan bagian peralatan rumah yang sangat vital karena digunakan untuk memasak makanan dan minuman yang terkait dengan kebutuhan untuk hidup keluarga.

Nenek moyang kita membaca ketika memasak membutuhkan tiga batu atau tiga tungku yang seimbang dalam memasak. Jadi dari ini, perlu menciptakan tiga tatanan kemasyarakatan yang seimbang, itulah mora, kahanggi, anakboru.

Komentar